Kita Berevolusi dari Tempat Kotor, Bidet Puncaknya: Kenapa Adopsi Bidet di Negara Asia Tenggara Masih Belum Rata?

Ritual harian kita di toilet itu sebenarnya adalah cerminan dari kemajuan peradaban.

Manusia itu berevolusi dari tempat yang kotor, tapi sekarang kita sudah sampai di titik di mana bidet bisa dianggap sebagai puncak teknologi kebersihan yang bikin kita super beradab dan bisa beraktivitas tanpa ada kerak-kerak berbau amboi di bawah sana.

Tapi anehnya, di kawasan kita sendiri, adopsi bidet di negara Asia Tenggara masih kayak gado-gado; ada yang jelas pro pakai air, ada yang di tengah-tengah kayak Singapura; antara air atau tisu doangan.

Percebokan Dari Alam Liar ke Kamar Mandi Modern

Kalau kita tarik mundur sejarahnya, cara manusia bersih-bersih setelah “panggilan alam” itu unik banget.

Sebelum ada bidet yang canggih kayak sekarang, leluhur kita pakai apa aja yang ada di sekitar mereka, mulai dari daun, batu, sampai tongkat.

Gayung dan Tabo

Di Filipina, ada istilah tabo. Kalau enggak salah, diartikan langsung artinya gayung; tapi bisa meluas ke artian kebersihan atau hygiene1.

Benda ini bukan cuma gayung plastik biasa yang kamu temui di ember, tapi punya nilai sejarah yang dalam. Dulu, tabo dibuat dari batok kelapa dan bambu.

Menariknya, tabo dulunya bukan ditaruh di toilet, tapi di depan pintu rumah atau di dapur supaya tamu bisa cuci tangan dan kaki sebelum masuk.

Ini menunjukkan kalau orang Asia Tenggara itu sebenarnya punya obsesi sama kebersihan yang sudah mendarah daging.

Di Indonesia dan Malaysia, kita lebih kenal dengan istilah gayung atau cebok. Penggunaan air itu dianggap jauh lebih bersih dan memuaskan daripada cuma diusap pakai benda kering.

“Bum Gun” Thailand

Lalu, evolusi berlanjut ke yang namanya bidet spray, atau kalau turis asing bilangnya “bum gun”, karena mereka nganggep tisu adalah pembersih yang lebih familiar.

Thailand adalah salah satu pelopor yang bikin alat ini jadi standar di hampir setiap rumah. Cuma butuh satu semprotan yang presisi, dan semua urusan selesai tanpa perlu ribet sama tisu yang seringkali malah bikin lecet.

Pertama kali diproduksi di Thailand sekitar tahun 1972, bidet spray ini jadi solusi murah, praktis, dan sangat efektif2.

Keluhan lain: Gamers Selalu Kena Getahnya Inovasi Teknologi Perusahaan Dunia

Kenapa Adopsi Bidet di Negara Asia Tenggara Itu Beda-beda?

Walaupun bidet itu kelihatan kayak solusi paling logis, nyatanya penyebarannya enggak secepat itu di semua titik. Ada faktor-faktor besar yang main di belakang layar.

Pengaruh Agama dan Budaya yang Kuat Banget

Agama punya peran gargantuan dalam menentukan kenapa kita lebih suka air. Di negara dengan mayoritas Muslim kayak Indonesia dan Malaysia, kebersihan atau thaharah itu wajib hukumnya.

Menggunakan air untuk bersuci setelah buang air itu bagian dari etika toilet Islami. Hal yang sama juga berlaku di kebudayaan Hindu dan Buddha di mana air dianggap sebagai media pembersih yang paling murni.

Makanya, bidet spray atau bidet portabel itu laku keras di sini karena mendukung praktik ritual kebersihan harian.

Antara Tradisi Squat Toilet dan Western Style

Asia Tenggara itu unik karena kita berada di persimpangan antara gaya duduk (Western) dan gaya jongkok (Squat). Banyak anggapan kalau toilet jongkok itu lebih sehat karena posisi tubuh yang lebih alami.

Di toilet jongkok, bidet spray atau gayung itu wajib ada karena enggak mungkin pakai tisu sambil jongkok, kan? Enggak natural aja gitu.

Tapi seiring urbanisasi (dan baratisasi), toilet duduk mulai masuk, dan di sinilah mulai terjadi pergeseran: ada yang memasang bidet di toilet duduk, tapi ada juga yang ikut-ikutan gaya barat yang cuma pakai tisu.

Kasus Unik Singapura: Negara Maju Tapi Kok Masih “Kering”?

@benwoah

kan ni na 2024 already but there is still no bidet in Singapore shopping mall like kimak my butt smelly sia…☢️🔥 #benwhoah #fyp #tiktoksg #bidetking

♬ original sound – Benwhoah – Benwhoah
Resapi rasa frustrasi orang ini.

Nah, ini yang menarik. Kalau kamu pergi ke Singapura, kamu bakal lihat negara yang super modern dan bersihnya minta ampun.

Kayak orang Indonesia beruntung lainnya, saya pernah ngerasain ke Singapura buat jalan-jalan. Tanpa persiapan banyak dan spesifik, apalagi buat departemen percebokan, saya berangkat.

Dalam waktu singkat di sana, saya ngeh kalo di banyak tempat mereka enggak nyediain bidet! Sisanya enggak perlu lah ya saya tulis.

Jadi, di sini itu urusan bidet di toilet publiknya seringkali kerasa kurang konsisten kalau dibandingin sama Thailand, Malaysia, atau Indonesia.

Standar Kebersihan Singapura dan Dilema Kertas Toilet

Saya berusaha untuk enggak generalisasi ya, Singapura itu sebenarnya sudah mengadopsi bidet, tapi pendekatannya sangat teratur dan sistematis.

Di banyak toilet publik yang lama atau yang sangat terpengaruh desain Barat, tisu toilet masih jadi primadona.

Ada semacam anggapan kalau toilet basah itu toilet yang kotor, padahal air itu justru media pembersihnya. Jadi, demi menjaga toilet tetap kering dan rapi, penggunaan air semprotan kadang dikurangi di area publik tertentu.

OK, toilet kering; tapi bayangin di balik mereka beraktivitas, tersenyum, kerja sehari-hari, berjabat tangan, makan siang; kemungkinan kalau “di bawah sana” mereka masih menyimpan kerak koko crunch itu TIDAK 0%.

Sampe ada yang bikin ini custom Google Maps pinpoint untuk lokasi bidet di Singapura. Bukmak, siapa tau butuh.

Panduan Desain Toilet Publik di Singapura

Restroom Association (Singapore) sebenarnya punya panduan desain yang sangat detil.

Mereka merekomendasikan setidaknya ada satu bilik dengan fasilitas bidet di setiap blok toilet publik. Masalahnya, itu cuma rekomendasi minimal.

Di Singapura, mereka lebih fokus pada teknologi “hands-free” kayak sensor flush otomatis dan keran sensor buat meminimalkan sentuhan tangan dengan kuman.

Jadi, bidet di sana seringkali berupa bidet kursi yang terintegrasi (washlet) yang harganya mahal, bukan bidet semprotan murah yang bisa kamu temukan di warung pinggir jalan di Jakarta.

Keluhan lain: Pengalaman Pengguna Windows Seumur Hidup Ganti ke MacBook: Runyem

Bidet vs Tisu Toilet

Kalau kita bicara soal puncak evolusi, bidet menang telak dari hampir segala sisi.

Analoginya simpel: kalau kamu terjerembap dan muka kamu kena lumpur, apa kamu cuma bakal mengelapnya pakai tisu kering sampai bersih? Enggak, kan? Pasti dicuci pakai air.

Sisi Lingkungan: Cebok Pakai Air Ternyata Lebih Hijau

Ini fakta yang sering bikin orang kaget: butuh sekitar 37 galon air cuma buat memproduksi satu gulung tisu toilet.

Bandingkan sama bidet yang cuma pakai sekitar 1/8 galon per sekali pakai. Menggunakan bidet bisa mengurangi sampah kertas sampai 75% per rumah tangga tiap tahunnya3.

Bisa dibayangin berapa banyak pohon yang bisa kita selamatkan kalau adopsi bidet di negara Asia Tenggara mencapai 100%.

Bidet, Lebih dari Sekadar Gaya Hidup

Dari sisi medis, penggunaan air itu jauh lebih lembut buat kulit sensitif di area “output” kita.

WHO bahkan mencatat kalau negara dengan tingkat penggunaan bidet yang tinggi punya insiden infeksi saluran kemih dan masalah pencernaan yang lebih rendah.

Penggunaan air membantu mengurangi risiko iritasi dan ambeien. Jadi, bidet itu bukan cuma soal kenyamanan, tapi soal bertahan hidup lebih sehat.

Teknologi Pintar di Balik Puncak Evolusi Kebersihan

Ini toilet beneran ada dan mirip kokpit mission control.

Sekarang kita sudah masuk ke era “Smart Toilet”. Bidet bukan lagi cuma pipa besi yang menyemprotkan air dingin yang bikin kaget di pagi hari.

Smart Toilet dan Deteksi Bau Otomatis

Di pasar yang sudah maju kayak Jepang, atau mulai masuk ke Singapura dan kota-kota besar di Indonesia, smart bidet bisa mengatur suhu air, tekanan semprotan, bahkan punya pengering udara hangat.

Ada juga teknologi sensor yang bisa mendeteksi kadar amonia di udara toilet. Kalau baunya sudah lewat batas, kipas ventilasi bakal nyala otomatis.

Ini bener-bener level dewa dalam urusan kebersihan.

Lampu UV-C: Membasmi Kuman Tanpa Sentuhan

Beberapa bidet canggih sekarang dilengkapi dengan lampu UV-C yang otomatis membersihkan nozzle semprotan setiap kali selesai dipakai.

Teknologi ini bisa membunuh bakteri dan virus tanpa perlu bahan kimia keras, jadi aman banget buat lingkungan.

Ini membuktikan kalau teknologi toilet kita sudah berevolusi dari sekadar lubang di tanah jadi fasilitas kesehatan tingkat tinggi.

Tantangan Menuju Adopsi Bidet yang Merata

Tapi ya gitu, meskipun bidet itu keren, tantangannya tetap ada. Enggak semua orang (negara) bisa langsung pasang bidet besok pagi secara merata dan instan.

Infrastruktur Pipa dan Masalah Biaya Instalasi

Banyak bangunan lama, terutama di apartemen padat penduduk atau daerah pedesaan, pipanya enggak didesain buat tekanan bidet.

Kadang, biaya buat membongkar dinding dan memasang pipa air baru itu lebih mahal daripada harga bidetnya sendiri.

Model elektrik yang canggih juga butuh colokan listrik di dekat toilet, sesuatu yang jarang ada di toilet-toilet lama yang lembap.

Edukasi Pengguna Biar Enggak Bikin Berantakan

Pakai bidet itu ada seninya. Kalau enggak terbiasa, airnya bisa nyemprot ke mana-mana, bikin lantai toilet banjir, dan akhirnya malah jadi sarang kuman.

Edukasi soal cara pakai bidet yang benar itu penting banget, apalagi di toilet publik.

Buat tempat yang belum mengadopsi bidet, kan cukup kasih pesan-pesan yang simpel kayak “Ayo arahkan dengan benar” atau “Jaga lantai tetap kering” supaya fasilitas bidet yang sudah dipasang mahal-mahal enggak malah jadi beban buat petugas kebersihan.

Efektivitas penerimaan pesan oleh pengunjungnya ya soal lain hal.

Lebih Bersih dan Basah?

Kita memang berevolusi dari tempat yang kotor, tapi kita enggak harus tinggal di sana selamanya.

Bidet adalah bukti kalau teknologi bisa bikin hidup kita lebih manusiawi, lebih bersih, dan lebih ramah lingkungan.

Walaupun adopsi bidet di negara Asia Tenggara masih menghadapi tantangan infrastruktur dan kebiasaan lama, trennya sudah jelas: orang makin sadar kalau air itu lebih unggul daripada kertas.

Wajib: Siapkan bidet portabel kalau mau ke Singapura, atau pakai toilet jongkoknya karena udah pasti ada bidet spray.

FAQ

Apakah bidet spray benar-benar lebih bersih daripada tisu toilet?

Ya jelas. Air bisa menjangkau sela-sela kecil yang enggak bisa dibersihkan cuma dengan diusap tisu. Selain itu, air meminimalkan gesekan yang bisa bikin kulit iritasi.

Kenapa bidet spray disebut “bum gun”?

Ini tuh slang yang sering dipakai turis asing di Asia Tenggara karena bentuk bidet spray yang mirip pistol dan fungsinya buat “menembak” tinja.

Berapa banyak air yang bisa dihemat kalau kita beralih ke bidet?

Secara total, beralih ke bidet menghemat ribuan galon air karena proses produksi satu gulung tisu toilet itu butuh air yang sangat banyak dibanding jumlah air yang kamu pakai buat nyemprot.

Apa bedanya bidet spray tradisional sama bidet elektrik?

Bidet spray tradisional itu manual, cuma pipa semprot. Bidet elektrik (washlet) biasanya menyatu sama dudukan toilet, punya kontrol suhu air, tekanan, bahkan pengering dan pemanas kursi.

1https://en.wikipedia.org/wiki/Tabo_(hygiene)

2https://www.bangkokpost.com/thailand/general/3045545/thailands-bidet-spray-hygienic-bathroom-culture-found-in-every-home

3https://datahorizzonresearch.com/bidet-shower-market-50182

Prepared by:

Share: