10 Mekanik Game yang ‘Tewas’ Setelah Adanya Autosave

Kehadiran fitur autosave benar-benar mengubah wajah industri game. Kita nggak perlu lagi stres mikirin progres yang hilang gara-gara lupa nge-save manual atau mati konyol sebelum sempat ketemu save point. Tinggal main, lanjut, beres.

Tapi, ada sisi lain dari kenyamanan ini. Banyak mekanik kreatif yang dulu dipakai pengembang buat menantang pemain, sekarang jadi nggak relevan lagi.

Meski kita sepakat kalau autosave itu jauh lebih praktis, terkadang saya merasa kehilangan elemen-elemen unik yang dulu bikin game terasa lebih menantang. Mungkin suatu saat nanti mekanik ini bakal balik lagi dengan cara baru, tapi selama autosave masih mendominasi, mekanik-mekanik ini bakal tetap jadi kenangan.

10. Save Scumming

Pas kita ngomongin save scumming, atau kebiasaan nge-save terus menerus biar bisa load ulang kalau ada keputusan yang salah, autosave secara nggak langsung ngebunuh taktik ini. Kecuali di game kayak Baldur’s Gate 3 yang punya pengecualian, sistem autosave modern sering banget menimpa progres kita secara otomatis.

Sekarang, mau balik ke keputusan sebelumnya? Hampir mustahil. Apalagi kalau ada mode Ironman atau Honour Mode yang memaksa setiap keputusan jadi permanen. Jadi, save scumming sekarang jauh lebih susah dan jarang bisa dilakukan sesuka hati.

9. Membiarkan Konsol Tetap Menyala

Dulu, kalau nggak punya memory card, pilihan kita cuma dua: tamatin gamenya sekali duduk atau… biarin konsol tetap nyala semalaman. Duh, bayangin aja harus ninggalin PS1 nyala berhari-hari cuma karena nggak bisa nge-save di tengah level!

Untungnya, sekarang udah ada fitur Rest Mode yang bikin konsol bisa “tidur” tanpa mati total. Tapi dulu? Kita cuma bisa pause, matiin TV, dan berdoa semoga nggak ada yang nggak sengaja nyenggol kabel atau mati lampu.

8. Berbagi Save Data

Dulu kalau buntu di bos yang susah banget, solusinya gampang: pinjem memory card temen yang udah jago. Kamu tinggal tancepin memory card-nya, beres deh. Sekarang, berkat penyimpanan berbasis cloud, hal kayak gitu udah nggak bisa lagi dilakukan.

Meski ada komunitas atau fitur co-op kayak di Elden Ring yang bikin kita bisa minta tolong pemain lain secara langsung, rasanya tetap beda sama sensasi tukar-menukar memory card di tongkrongan, ya?

7. Membaca Memory Card untuk ‘4th Wall Break’

Dulu game bisa bikin kita merinding lewat break 4th wall dengan cara membaca isi memory card kita. Contoh legendarisnya ya Psycho Mantis di Metal Gear Solid yang bisa nebak game apa aja yang pernah kita mainin.

Karena memory card udah punah, pengembang sekarang lebih kreatif pakai data lain, misalnya ngecek nama sistem atau aplikasi streaming di PC kayak di Doki Doki Literature Club. Tetap seram sih, tapi efek “kaget” saat game tahu isi memory card kita itu bener-bener nggak ada duanya.

6. Bayar untuk Save

Tenang, bukan pakai uang beneran kok! Dulu, game kayak Donkey Kong Country mewajibkan kita bayar pakai mata uang dalam game, seperti pisang, hanya untuk bisa nge-save. Ini jadi insentif biar kita rajin eksplorasi level.

Sistem ini bikin setiap sesi main terasa berharga. Sekarang, karena autosave udah otomatis dan gratis, elemen manajemen sumber daya ini jadi hilang. Padahal, dulu itu salah satu cara pengembang bikin kita tetap fokus dan teliti.

5. Peringatan Reset/Shutdown

Masih ingat Mr. Resetti di Animal Crossing? Kalau kamu keluar game tanpa nge-save, dia bakal muncul dan ngomel panjang lebar. Itu adalah cara game “menghukum” kita kalau ceroboh.

Sekarang, Mr. Resetti hampir nggak punya kerjaan lagi karena game sudah otomatis tersimpan di latar belakang. Bahkan di seri terbaru, dia sendiri mengakui kalau perannya sudah nggak terlalu dibutuhkan. Sedih juga ya kalau dipikir-pikir?

4. Workaround buat Speedrun

Di banyak game klasik, quicksave adalah kunci buat para speedrunner. Contohnya di Silent Hill 2, kita bisa manfaatin bug saat nge-save di momen tertentu buat ngelewatin cutscene yang nggak bisa di-skip.

Dengan autosave, banyak glitch klasik ini hilang karena pengembang seringkali meniadakan opsi manual save. Buat para speedrunner modern, mereka harus cari cara baru (atau bug baru) buat memecahkan rekor waktu.

3. Password dan Kode

Sebelum ada memory card, kita pakai sistem password. Ingat harus nyatet deretan huruf atau simbol di kertas buat lanjutin level? Itu adalah bagian dari ritual main game zaman dulu.

Memang, sekarang kita nggak perlu ribet lagi ngapalin kode, dan jujur aja, saya lebih milih autosave daripada harus ribet nyatet kode. Tapi, ada rasa puas tersendiri waktu berhasil masukin kode rahasia dan kebuka area baru atau dapat item spesial.

2. Mekanik Save Manual

Ingat Ink Ribbon di Resident Evil klasik? Kita dibatasi jumlah save-nya. Ini bikin setiap keputusan buat nge-save jadi sangat krusial. Kamu harus mikir dua kali: “Apa saya perlu nge-save sekarang, atau simpan buat nanti?”

Sekarang, kalaupun ada fitur kayak gitu, sifatnya cuma opsional atau sekadar nostalgia. Dulu, mekanik ini dipaksakan sebagai bagian dari tantangan game, yang bikin intensitas bermain jauh lebih tinggi dibanding game modern yang serba instan.

1. Rewards untuk No Save Runs

Dulu, ada tantangan No Save Run, tamat tanpa nge-save sekali pun. Hadiahnya biasanya keren banget, kayak Infinite Rocket Launcher di Resident Evil 2.

Karena autosave sekarang dipaksakan aktif di hampir semua game, tantangan ini jadi mustahil buat dilakukan. Kita nggak punya pilihan buat menonaktifkan autosave dan mencoba tantangan ekstrem ini. Sayang banget, padahal itu adalah cara paling jujur buat membuktikan seberapa jago kita dalam sebuah game.

Prepared by:

Share: