Resonance: A Plague Tale Legacy bukan sekadar game “ikutan” yang memanfaatkan nama besar seri Plague Tale. Sebagai entri ketiga setelah Innocence dan Requiem, Asobo Studio sebenarnya punya modal kuat.
Mereka memang masih terpengaruh gaya naratif Naughty Dog seperti The Last of Us, tapi kali ini mereka mencoba memberikan sentuhan baru yang bikin gamenya terasa punya jati diri sendiri.
Harus diakui, Resonance adalah proyek paling ambisius Asobo sampai saat ini. Tapi, apakah mereka berhasil keluar dari zona nyaman? Jawabannya agak abu-abu.
Kalau kamu penggemar berat dua seri sebelumnya, game ini mungkin bakal langsung klik di hati. Tapi di sisi lain, saya merasa Asobo masih menyimpan potensi yang belum sepenuhnya keluar. Masih ada ganjalan yang bikin game ini terasa belum mencapai titik maksimalnya.

Meski begitu, jangan salah sangka. Game ini tetap jauh dari kata medioker. Ada kualitas yang muncul secara konsisten di beberapa bagian, yang bikin saya optimis kalau proyek Asobo berikutnya bisa jadi mahakarya yang sesungguhnya.
Resonance: A Plague Tale Legacy Memanjakan Mata, Tapi Ceritanya Naik-Turun

Ceritanya mengambil latar 15 tahun sebelum A Plague Tale: Requiem. Kita bakal mengikuti masa muda Sophia, karakter yang mungkin sudah kamu kenal dari Requiem. Awalnya, Sophia adalah gadis kecil yang jadi kelinci percobaan di biara terpencil.
Setelah diselamatkan ayahnya yang seorang kriminal, Sophia pun tumbuh jadi bagian dari dunia hitam. Cerita berlanjut saat Sophia dan kelompok “penjarahnya” mengalami kegagalan dalam sebuah misi, yang akhirnya memaksa Sophia kabur ke Minotaur Island, sebuah tempat misterius yang terus menghantuinya lewat halusinasi.
Tanpa membocorkan terlalu banyak, ritme cerita di awal game ini terasa buru-buru. Game langsung melempar kita ke tengah konflik dengan banyak karakter baru, seolah-olah kita sudah punya ikatan emosional dengan mereka. Padahal, karakternya terasa agak datar.
Banyak karakter sampingan yang cuma hadir sebagai pelengkap atau penghalang, dan interaksi mereka seringkali terasa dibuat-buat. Ada momen di mana karakter tiba-tiba berubah sifat atau terlibat pertengkaran yang sebenarnya gak perlu.

Tapi, ini gak berlaku buat Sophia. Dia adalah sosok protagonis yang sangat manusiawi dan mudah disukai. Perjalanannya terasa berat, dan kita bisa melihat bagaimana kerasnya dunia membentuk karakternya. Semua ini terbantu berkat akting suara dan motion capture jempolan dari Anna Demetriou.
Meskipun naskahnya kadang terlalu melodramatis, Demetriou berhasil membawakannya dengan sangat meyakinkan.
Visual? Jangan ditanya. Asobo sekali lagi membuktikan mereka jagoan urusan estetika. Minotaur Island tampil begitu megah, kuno, dan memikat.
Art direction di seri ini bahkan terasa lebih dominan dibanding pendahulunya. Asobo punya bakat besar dalam menyajikan area yang epik, aksi ala Uncharted, dan sinematografi cutscene yang memanjakan mata. Singkatnya, kalau soal keindahan, game ini adalah tempat yang nyaman buat sekadar “nongkrong”.
Ekspektasi yang Belum Terpenuhi

Gameplay stealth di seri sebelumnya memang oke, tapi masih terbatas. Di Resonance, saya berharap Asobo bakal lebih berani eksplorasi mekanik. Hasilnya? Campur aduk.
Salah satu perubahan besar adalah pergeseran ke aksi langsung. Sophia gak main sembunyi-sembunyi seperti Hugo atau Amicia. Dia maju dengan pedang dan belati. Secara mekanik, kita dibekali serangan dasar, blok, parry, dodge, dan grapple-hook. Sayangnya, loop pertarungannya terasa terlalu mendasar.
Meskipun ada sistem parry ala Sekiro, rasanya kurang mendalam karena gak banyak variasi atau opsi untuk memodifikasi gaya bertarung. Hampir semua pertarungan berakhir dengan pola yang sama: serang, parry, pukul, ulangi. Membosankan? Sedikit.

Anehnya, combat-nya justru lebih terasa seperti Batman: Arkham Asylum daripada Sekiro yang jadi inspirasi mereka. Sistem progresinya pun terasa nanggung. Hanya ada enam skill yang bisa dibuka, dan kebanyakan cuma memperkuat apa yang sudah ada tanpa memberikan opsi gameplay yang benar-benar baru. Rasanya sistem ini cuma ada biar ada aja.
Meski begitu, momen-momen melarikan diri dari musuh (seperti gaya stalker) dan teka-teki lingkungan justru jadi bagian paling seru di game ini. Di situlah saya melihat potensi sebenarnya dari Asobo.
Kalau ulasan ini terdengar agak kritis, itu karena saya berharap lebih. Resonance memang berhasil tampil beda dari seri sebelumnya, tapi ia masih terbebani dengan desain yang terasa ketinggalan zaman dan cerita yang seringkali berantakan. Ini adalah game yang bagus dan dibuat dengan niat, tapi belum cukup berani untuk dibilang luar biasa.









