Roguelike. Pernah dengar istilah ini? Mungkin kamu sering lihat tag ini di Steam, atau diulasan game-game indie keren kayak Hades atau Dead Cells. Tapi, apa sih sebenarnya roguelike itu? Kenapa genre ini sering bikin pemainnya bilang, “Gila, susah banget, tapi kok nagih ya?”
Gini ya, genre roguelike ini, bersama dengan sepupunya, roguelite, sekarang lagi naik daun banget di industri game. Permintaan pemain buat game yang menantang dan bisa dimainkan ulang terus-menerus itu tinggi banget.
Bahkan, pasar game roguelike global diprediksi mencapai nilai miliaran USD dalam beberapa tahun ke depan. Makanya, kalau kamu mau dibilang gamer sejati, kamu wajib tahu seluk beluk genre yang satu ini!
Roguelike adalah subgenre dari computer role-playing games (cRPG) yang punya ciri khas utama: level yang dibuat secara acak (prosedural) dan kematian permanen (permadeath). Intinya, game ini benar-benar menguji keterampilan, adaptabilitas, dan sedikit keberuntungan kamu.
- Apa Itu Roguelike?
- Definisi “Resminya”, Roguelike adalah…
- Rogue (1980): Sang Nenek Moyang Genre
- Pilar Utama Genre Roguelike Tradisional
- Game Terinspirasi Roguelike
- Memasuki Dunia Genre Roguelike
- Memahami Kontroversi: Apa Beda Roguelike dan Roguelite?
- Mengapa Game Roguelike Begitu Menarik dan Populer?
- Dampak Roguelike di Industri Game
- Kesimpulan
Baca juga: 20 Game Triple A Terbaik
Apa Itu Roguelike?

Bayangin deh, kamu masuk ke ruang bawah tanah (dungeon) yang gelap. Setiap langkah yang kamu ambil, setiap monster yang kamu lawan, itu punya risiko besar. Kalau kamu mati, tamat. Enggak ada save file yang bisa di-load lagi, dan kamu harus mulai dari awal banget. Serem, kan? Nah, itulah esensi dari roguelike.
Baca juga: 10 Game Mirip Limbo di Android dan PC
Definisi “Resminya”, Roguelike adalah…

Jauh sebelum ada grafis 3D canggih, game roguelike ini lahir dari keterbatasan teknologi, terutama di komputer mainframe universitas Amerika tahun 1980-an. Para pengembang saat itu, yang juga penggemar berat game meja Dungeons & Dragons, pengen menciptakan petualangan dungeon crawl yang bisa dimainkan di komputer.
Karena memori komputer zaman itu kecil banget, mereka enggak bisa menyimpan semua peta dungeon. Makanya, mereka pakai trik jenius: biarin komputer yang bikin sendiri levelnya setiap kali pemain main. Mekanik inilah yang kita kenal sebagai procedural generation.
Cek juga: 7+ Game Indie Isometric Terbaik yang Wajib Kamu Coba
Rogue (1980): Sang Nenek Moyang Genre

Nama Roguelike sendiri, jelas banget, diambil dari game legendaris yang rilis tahun 1980, yaitu Rogue.
Di game Rogue, tujuan kamu cuma satu: mencari Amulet of Yendor di level terdalam dungeon. Kalau kamu berhasil, keren! Kalau mati, ya udah, bye-bye. Game ini tadinya cuma pakai karakter ASCII (huruf dan simbol keyboard) buat ngewakilin karakter (@), monster (D), dan harta karun ($) di layar terminal hitam-putih.
Meskipun game Beneath Apple Manor (1978) itu lebih dulu punya elemen roguelike (level acak dan permadeath), Rogue lah yang dikenal luas karena distribusinya lewat ARPANET (jaringan awal internet) yang diakses ribuan mahasiswa. Makanya, game-game turunan yang punya mekanik serupa disebut “roguelike”.
Baca juga: 7 Rekomendasi Game Membangun Kota Terbaik di PC
Pilar Utama Genre Roguelike Tradisional
Komunitas roguelike pernah mencoba mendefinisikan secara formal apa yang membuat sebuah game benar-benar “Roguelike” murni melalui “Berlin Interpretation” pada tahun 2008. Definisi ini menetapkan beberapa faktor bernilai tinggi (high-value factors). Kalau sebuah game memenuhi banyak kriteria ini, dia dianggap sebagai roguelike sejati.
Tiga pilar utamanya adalah:
1. Kematian Permanen (Permadeath): Sekali Mati, Tamat!
Ini dia high-value factor yang paling penting. Dalam roguelike, kalau karakter kamu mati, dia benar-benar hilang. Kamu harus bikin karakter baru dan mulai run (sesi bermain) baru dari awal lagi.
Kenapa ini penting?
1. Keputusan Jadi Berat: Permadeath memberikan bobot besar pada setiap keputusan yang kamu buat, dari mulai memilih item, menyerang monster, sampai memutuskan mundur atau lanjut. Risiko yang tinggi ini menciptakan pengalaman yang lebih imersif dan menegangkan.
2. Fokus pada Keterampilan: Karena kamu enggak bisa save scumming (mengulang dari save file terbaik), satu-satunya yang berkembang adalah keterampilan personal kamu sebagai pemain.
Coba deh bayangin kamu main catur, tapi setiap kali salah langkah, bidak catur kamu dibuang, dan kamu harus ngulang dari awal, dan papan catur kamu diacak. Rasa tegangnya itu loh, yang dicari!
2. Pembuatan Level Secara Prosedural (Procedural Generation)
Pilar kedua adalah procedural content generation (PCG), atau gampangnya, level acak. Setiap kali kamu mulai run baru, yaitu sesi permainan dimulai dari hub area (area aman) sampai kamu mati atau tamat; peta, penempatan musuh, dan item di dalamnya akan dibuat baru oleh algoritma.
PCG ini berbeda dari keacakan murni (true randomness). PCG ini menggunakan serangkaian aturan yang ditetapkan oleh pengembang buat “menabur” level. Tujuannya adalah memastikan level tetap bisa diselesaikan, sekaligus menciptakan estetika yang menarik. Beberapa metode PCG yang sering dipakai buat bikin dungeon termasuk BSP Trees (buat bikin ruangan kotak dan koridor), Tunneling Algorithms (kayak ngegali), atau Cellular Automata (buat bikin sistem gua alami).
Mengapa Level Acak Sangat Penting?
Kalau levelnya enggak acak, kamu bakal cepat bosan. Begitu kamu tahu lokasi musuh atau item terbaik, kamu tinggal ikutin panduan (walkthrough). PCG justru bikin kamu harus berpikir strategis di tempat yang baru setiap saat.
Intinya, PCG memberikan nilai replayability tak terbatas. Kamu bisa main game yang sama berkali-kali, tapi rasanya kayak petualangan baru terus.
3. Sistem Berbasis Grid dan Turn-Based
Secara tradisional, roguelike juga punya ciri khas:
1. Grid-Based Movement: Pergerakan karakter di peta terjadi di atas ubin atau kotak seragam (kayak papan catur).
2. Turn-Based: Gameplaynya berbasis giliran. Setiap aksi yang kamu lakukan (misalnya, bergerak satu kotak, menyerang), dihitung sebagai satu giliran, dan monster juga baru bergerak setelah giliran kamu.
Model turn-based ini memberikan kamu waktu sebanyak yang kamu butuhkan buat mikir dan menyusun strategi di tengah situasi sulit, misalnya saat dikepung monster. Ini sangat kontras dengan game aksi serba cepat (real-time).
Baca juga: Urutan Cerita Metal Gear Solid Terlengkap
Game Terinspirasi Roguelike

Istilah “roguelite” kadang-kadang muncul untuk game yang memiliki elemen seperti kematian permanen dan generasi prosedural, tetapi lebih sedikit dari karakteristik tingkat tinggi atau rendah roguelike. Namun, neologisme ini tidak selalu diterima.
Seringkali, “roguelike-inspired” sudah cukup untuk menggambarkan game-game semacam ini, meskipun penggunaan berlebihan bisa terasa membosankan. Terkadang, menyebut suatu game sebagai “game tembak-tembakan dual-stick ala roguelike” sudah cukup untuk menggambarkan inti permainannya.
Baca juga: 7 Game Racing Terbaik Di Konsol Dan PC
Memasuki Dunia Genre Roguelike

Penting untuk diingat bahwa roguelike hampir selalu sulit sebagai genre. Mereka didesain untuk memberikan pemain sistem-sistem menantang yang harus dikuasai, dan kesalahan akan berakibat buruk. Pendekatan yang adil sangat diperlukan sebelum kamu mulai bermain.
Memahami Kontroversi: Apa Beda Roguelike dan Roguelite?
Definisi roguelike yang kaku (seperti Berlin Interpretation) membuat banyak game modern yang terinspirasi dari Rogue, tapi enggak sepenuhnya pakai turn-based atau grid-based, jadi bingung mau ditaruh di mana.
Makanya, muncul istilah baru: Roguelite (atau roguelike-like).
Evolusi ke Roguelite: Lebih Ramah Pemain
Roguelite ini bisa dibilang evolusi dari roguelike yang lebih mainstream dan mudah diakses. Roguelite mengambil dua elemen penting dari roguelike: procedural generation dan permadeath. Tapi, mereka buang atau ubah elemen tradisional lainnya.
Game roguelite sering menggabungkan mekanik roguelike ke genre lain, menciptakan hybrid genre yang keren, seperti:
• Action Roguelikes: Mengambil gameplay aksi cepat, kayak Enter the Gungeon atau Risk of Rain 2.
• Platformer Roguelikes: Contohnya Spelunky atau Dead Cells.
• Deck-building Roguelikes: Pertarungan pakai kartu, kayak Slay the Spire atau Monster Train.
Kunci Perbedaan: Apa Itu Meta-Progression?
Perbedaan paling signifikan antara roguelike murni dan roguelite adalah adanya meta-progression di roguelite.
• Roguelike Tradisional: Setelah mati, kamu balik ke titik nol, cuma pengalaman dan pengetahuan kamu yang tersisa.
• Roguelite: Setelah mati, kamu balik ke hub area (markas aman), tapi kamu membawa pulang resource atau mata uang tertentu yang bisa kamu pakai buat beli upgrade permanen.
Meta-progression ini bisa berupa membuka senjata baru, meningkatkan statistik dasar karakter, atau mengaktifkan kemampuan baru yang tetap ada di run berikutnya.
Contoh paling jelas adalah game Hades (yang sering disebut roguelite aksi). Ketika karakter utamanya, Zagreus, mati, dia kembali ke House of Hades (hub area).
Di Hades, kamu bisa pakai Darkness atau Keys yang dikumpulkan buat upgrade kemampuan permanen di Mirror of Night atau buka Keepsakes. Ini membuat kamu merasa ada kemajuan, meskipun sering gagal. Meta-progression inilah yang bikin roguelite terasa kurang menghukum dan lebih menarik bagi pemain baru.
Ciri-Ciri Roguelite Modern
Roguelite cenderung menawarkan pengalaman gameplay yang lebih singkat per run dan punya kondisi kemenangan yang lebih pasti, enggak kayak roguelike tradisional yang bisa dimainkan tanpa batas.
Game roguelite kayak Hades juga sering mengintegrasikan narasi dan cerita yang terus berkembang melalui kematian berulang. Jadi, setiap kali kamu mati, kamu enggak cuma ngulang, tapi juga dapat dialog baru dari NPC, yang akhirnya menggerakkan jalan cerita. Ini adalah salah satu inovasi desain yang membuat genre ini begitu populer.
Mengapa Game Roguelike Begitu Menarik dan Populer?
Meski terkenal susah dan enggak kenal ampun, kenapa banyak orang yang kecanduan main roguelike dan roguelite? Ada beberapa alasan mendalam yang berkaitan dengan desain game:
Nilai Replayability yang Tak Terbatas
Pikirin deh, kalau kamu beli game AAA biasa, setelah tamat, mungkin kamu simpan dan enggak main lagi. Tapi, game roguelike dirancang supaya kamu bisa, dan mau, main lagi.
Gara-gara procedural generation, kamu enggak pernah tahu apa yang bakal kamu hadapi selanjutnya. Ini menciptakan ketidakpastian yang bikin pemain terus penasaran, kayak mencari tahu kombinasi senjata dan power-up mana yang paling gila di run kali ini. Ada ratusan jam konten di game roguelike yang ringkas, tanpa perlu pengembang membuat semua levelnya secara manual.
Menciptakan “Hero or Zero”
Konsep ini, yang oleh desainer game Tom Cadwell disebut Hero or Zero (HoZ), adalah kombinasi penting antara kemajuan tajam dalam satu sesi dan konsekuensi tajam saat kegagalan.
Karena permadeath, kemenangan kecil sekalipun (misalnya, mengalahkan bos di level awal) terasa heroik dan sulit didapatkan. Kontras yang tajam antara ‘Nol’ (mati dan kehilangan segalanya) dan ‘Pahlawan’ (kemenangan yang jarang) itu sangat mendebarkan.
Selain itu, roguelike mengajarkan pemain untuk berimprovisasi dan menggunakan alat yang ada (Diverse Tools and Making Do). Kamu mungkin punya alat yang enggak sempurna buat tantangan tertentu, tapi kamu harus pintar-pintar memakainya, mencari solusi, dan berkreasi di tengah keterbatasan. Keberadaan permadeath memastikan bahwa keputusan strategis seperti ini punya bobot.
Baca juga: Kronologi Terlengkap Cerita Silent Hill (SH) yang Mengerikan
Dampak Roguelike di Industri Game

Genre roguelike dan roguelite terbukti sangat berpengaruh. Fitur-fitur utamanya, terutama permadeath dan procedural generation, mulai diadaptasi oleh game-game besar lainnya.
Secara bisnis, genre ini diminati karena:
1. Aksesibilitas Indie Developer: Alat pengembangan modern memudahkan studio kecil dan pengembang tunggal (indie) membuat judul roguelike yang inovatif dengan biaya yang lebih rendah.
2. Kesesuaian Platform: Roguelike sangat cocok buat dimainkan dalam sesi singkat (session-based gameplay), makanya genre ini laris manis di konsol portabel kayak Nintendo Switch dan platform mobile.
3. Dukungan Komunitas: Keacakan dalam game bikin streamer dan content creator punya materi yang menarik dan enggak terduga buat disiarkan.
Roguelite ini seperti jembatan yang membawa inti desain game lawas yang hardcore ke hadapan pemain modern, tapi dengan bumbu meta-progression yang membuat hukuman kegagalan terasa enggak separah itu. Makanya, roguelite sekarang jadi genre yang dominan dan terus berkembang.
Sebelumnya: Daftar Akun Steam Buat Beli Game, Simak Caranya!
Kesimpulan
Nah, udah jelas kan? Intinya, roguelike adalah genre yang menjunjung tinggi dua prinsip suci: kematian permanen (permadeath) dan level yang dibuat secara acak (procedural generation). Jika kamu mencari tantangan murni yang memaksa kamu belajar dari nol setiap kali kamu gagal, roguelike tradisional adalah jawabannya.
Sementara itu, roguelite adalah versi modern dan hibrida yang mengizinkan meta-progression. Roguelite menawarkan jaring pengaman kecil yang membuat kamu tetap termotivasi buat bangun lagi setelah mati, dan melihat apa upgrade permanen baru yang bisa kamu dapatkan di run berikutnya.
Genre ini mengajarkan satu hal: kegagalan itu bukan akhir, melainkan awal dari pelajaran baru. Sama kayak hidup, kamu harus terus bangkit dan beradaptasi dengan tantangan yang selalu berubah, dan satu-satunya yang pasti kamu bawa dari kegagalan adalah pengalamanmu.
1. Apa kriteria utama yang harus dimiliki sebuah game agar disebut Roguelike murni?
Menurut “Berlin Interpretation” yang dibuat komunitas, roguelike murni harus punya sembilan faktor bernilai tinggi.
Yang paling utama adalah kombinasi ketat antara level yang dibuat secara acak (procedural generation), kematian permanen (permadeath), sistem turn-based, dan pergerakan berbasis grid. Kalau ada yang enggak terpenuhi, terutama turn-based dan grid-based, game itu cenderung disebut Roguelite.
2. Kenapa permadeath itu penting banget di genre ini, padahal bikin frustrasi?
Permadeath itu penting karena memberikan bobot nyata pada setiap keputusan yang kamu ambil. Enggak ada jalan pintas atau kesempatan kedua dari save file.
Tujuannya bukan buat bikin kamu sengsara, tapi buat menciptakan pengalaman imersif di mana keberhasilan kecil pun terasa heroik. Itu memaksa kamu buat menguasai mekanik game sepenuhnya.
3. Apa contoh game Roguelite yang paling populer saat ini?
Game roguelite modern yang sangat sukses termasuk Hades dari Supergiant Games, Dead Cells dari Motion Twin, Slay the Spire (Deck-building Roguelike) dari MegaCrit Games, dan The Binding of Isaac.
Game-game ini adalah roguelite karena mereka mempertahankan procedural generation dan permadeath, tapi menambahkan meta-progression (kemajuan permanen yang dibawa ke run berikutnya).
4. Apakah procedural generation sama dengan randomness (keacakan)?
Enggak sepenuhnya sama, lebih ke mirip. Randomness adalah keacakan murni, tapi procedural generation (PCG) adalah konten yang dihasilkan berdasarkan aturan formal tertentu.
Jadi, PCG itu acak, tapi tetap terkurasi. Tujuannya buat mencegah level yang tercipta jadi “boring, atau mustahil untuk diselesaikan”. PCG memastikan level tetap unik, tapi terstruktur.
5. Kenapa Roguelite lebih populer di kalangan gamer casual dibandingkan Roguelike tradisional?
Roguelite lebih menarik bagi gamer casual karena adanya meta-progression. Meta-progression itu kayak “hadiah” yang kamu bawa pulang setelah mati, yang bikin karaktermu lebih kuat secara permanen.
Ini mengurangi rasa hukuman yang terlalu keras dari permadeath dan membuat kemajuan terasa lebih cepat, yang lebih ramah bagi pemain yang enggak punya banyak waktu buat menguasai game yang super sulit.









