Setidaknya sekali pas kita nonton anime, saking kebawa suasana, kamu pernah ikutan teriak pas karakternya ngeluarin jurus pamungkas?
Kedengarannya mungkin agak konyol buat orang awam, tapi buat kelompok tertentu, ini tuh bentuk kepuasan yang hakiki. Rasanya kayak ada energi yang kesalur gitu aja pas kita teriak bareng karakter favorit.
Hal inilah yang jadi bahan bakar utama buat Reynold Erwandi, sosok di balik Rezero Studio.

Link Steam Super Shout Showdown
Di segmen People x Things kali ini, kita bakal ngulik gimana Reynold mencoba memvalidasi teriakan kita semua menjadi sebuah mekanik game yang kompetitif dan seru lewat proyek ambisiusnya: Super Shout Showdown.
Daftar Isi
Solo Developer: Antara Idealisme dan Realita Pekerjaan Full-Time

Meskipun menyandang nama studio yang keren, Reynold mengaku kalau Rezero Studio sebenarnya adalah proyek solo alias dikerjain sendirian.
Ini adalah potret nyata banyak builder di Indonesia; mereka punya mimpi besar tapi harus pinter-pinter juggling waktu.
Reynold sendiri ngerjain game ini sebagai sampingan di luar kerjaan full-time-nya yang dilakuin secara remote dari rumahnya di BSD.
Dia jujur banget kalau keterbatasan dana bikin dia enggak bisa “full throttle” atau tancap gas pol buat ngembangin gamenya.
Tapi, bukan berarti kualitasnya jadi asal-asalan. Dia punya mimpi kalau nanti hasil dari Early Access-nya cukup, dia pengen banget pivot jadi developer full-time dan mulai rekrut tim buat ningkatin kualitas gamenya.
Kenapa Harus Teriak?

Super Shout Showdown itu bisa dibilang game yang cukup eksperimental.
Bayangin aja, mekanik utamanya bukan pakai keyboard atau controller doang, tapi pakai microphone dan voice recognition.
Ini jarang banget ada di industri game karena memang risikonya gede: enggak semua orang punya mic yang bagus, dan enggak semua orang pede buat teriak-teriak di depan PC.

Tapi justru itu poinnya. Reynold pengen ngasih experience yang beda banget. Inspirasi visualnya datang dari gaya cel shading ala anime karena dia memang hobi nonton dan main game dengan style tersebut.
Dia ngerasa kalau konsep ini pas banget sama kiasan anime yang biasanya teriak sebelum nyerang. Tujuannya simpel: dia pengen kamu ngerasain gimana rasanya jadi “Main Character” atau MC di sebuah seri anime.
Di Balik Layar: AI ChatGPT dan Urusan Voice Recognition
Buat urusan pengenalan suara, Reynold awalnya pakai sistem bawaan Windows, tapi fiturnya terbatas banget; cuma dukung bahasa populer kayak Inggris atau Jepang.
Makanya, dia putar otak. Dia enggak mau pemainnya harus ribet instal ini-itu cuma buat main dan malah bikin ukuran gamenya gemuk.
Berhubung sekarang lagi tren AI, Reynold nemu solusi open source dari OpenAI (yang bikin ChatGPT), yaitu sistem pengenalan suara berbasis machine learning.

Ini sistem mendukung lebih dari 60 bahasa, termasuk Bahasa Indonesia. Tujuannya jelas: dia pengen streamer-streamer lokal Indonesia bisa main pakai bahasa naturalnya supaya momennya jadi lebih lucu dan relatable.
Gimana kalau logat atau aksen kita aneh?
Reynold pakai algoritma fuzzy logic. Jadi, sistem enggak bakal nuntut akurasi 100%.
Selama kemiripan kalimat kamu sekitar 75%-80% sama daftar mantra, jurusnya bakal keluar. Kamu bahkan bisa aktifin fitur buat ngelihat apa sih yang didengar sama sistem di belakang layar.
Dilema VRoid: Estetika vs Performa
Salah satu fitur yang bikin geek anime kegirangan adalah dukungan VRoid.
Buat yang belum tau, VRoid itu aplikasi buat bikin karakter anime 3D sendiri, detailnya sampai ke tiap helai rambut.
Reynold terinspirasi dari game Craftopia yang bisa masukin avatar sendiri, makanya dia bela-belain riset SDK VRoid supaya karakter buatan kamu bisa di-load langsung ke dalam game.
Tapi, fitur ini jadi tantangan teknis paling berat buat Reynold. Avatar VRoid itu biasanya berat banget buat di-render.
Kalau dalam satu room banyak yang pakai, FPS bisa anjlok. Belum lagi masalah tinggi badan karakter yang beda-beda, bikin Reynold kesulitan kalau mau nambahin aksesoris atau efek shader tertentu.
Tapi ya itu tadi, demi kepuasan kita jadi “MC”, Reynold tetep berjuang ngerapiin fitur ini.
Komunitas: Tempat Indie Developer Saling Support
Reynold sadar kalau game kayak gini butuh komunitas yang solid.
Makanya, dari awal dia sudah bikin rumah di Reddit dan Discord. Dia rajin nge-share trailer singkat buat ngelihat respon orang-orang. Strategi ini berhasil; banyak yang langsung nanya kapan bisa mainin gamenya.
Momen paling berkesan buat Reynold adalah pas dia bawa demo gamenya ke acara Game Dev Tangerang di akhir-akhir 2025.
Event itu sendiri didatengin langsung sama CEO Toge Productions. Berikut post undangannya beberapa waktu ke belakang:

Itu adalah validasi luar biasa buat seorang solo dev. Dukungan dari komunitas lokal ini yang bikin dia makin semangat buat nyiapin fase Early Access.
Strategi “No Micro-Transactions”

Di tengah gempuran game yang hobi jualan skin mahal, Reynold ngambil jalan yang beda.
Dia mutusin buat pakai model pay-to-play aja. Enggak ada micro-transactions, enggak ada DLC berbayar.
Semua mantra dan kosmetik bisa kamu buka cuma dengan mainin gamenya terus-menerus. Setiap pertandingan beres, kamu bakal dapet EXP dan currency buat unlock semuanya.
Kenapa gitu? Karena Reynold pengen kita bener-bener have fun.
Dia tahu kalau game ini mungkin bukan tipe game yang bakal dimainin ratusan jam sama orang yang sama. Dia cuma pengen kita dapet momen lucu, seru, terus di-share ke media sosial.
Mimpi Besar: Dari Megumin Sampai Wiro Sableng
Ngomongin soal jurus, Reynold punya banyak rencana gila. Saat ini sudah ada sekitar 20 mantra unik.
Yang paling favorit dikerjain adalah jurus-jurus ikonik kayak Explosion-nya Megumin atau Domain Expansion-nya Gojo.
Khusus buat jurus Explosion, Reynold sampai revisi visual dan suaranya tiga kali biar bener-bener berasa ledakannya, bukan cuma kayak ledakan nuklir biasa.
Ke depannya, dia punya “fitur impian” kayak Full Counter-nya Meliodas yang bisa mantulin serangan, atau Unlimited Blade Works yang bisa pindahin lawan ke dimensi lain.
Dan buat kita yang di Indonesia, jangan kaget kalau nanti ada easter egg lokal kayak jurus Wiro Sableng.
Pemain dibebasin buat ganti trigger suara mantra mereka sendiri, jadi kalau kamu mau ganti nama jurus jadi sesuatu yang lokal banget, ya silakan aja!
Full Interview Q&A dengan Reynold Erwandi
UrbanIdea: Rezero Studio terdaftar sebagai developer sekaligus publisher. Bisa cerita sedikit nggak soal perjalanan mas Reynold ngebangun studio ini?
Reynold: Oke, sejujurnya saya enggak tahu ya ini bisa dibilang studio atau enggak, karena sebenarnya ini saya sendiri sebagai solo developer.
Tapi memang ke depannya kalau memungkinkan, saya ingin hire orang lain juga buat bantu development supaya bisa ningkatin kualitas gamenya. Walaupun sekarang sebenarnya ada teman saya yang ikut bantuin juga ngerjain beberapa fitur di dalam gamenya.
UrbanIdea: Ini proyek solo atau tim kecil bareng teman-teman?
Reynold: Seperti yang saya bilang tadi, statusnya solo developer, tapi ada bantuan dari teman untuk beberapa bagian teknis tertentu.
UrbanIdea: Apa tujuan utama mas Reynold buat Super Shout Showdown? Fokusnya di keseimbangan kompetitif, atau lebih ke pengalaman ‘Spectacle Fighter’ dan serunya roleplay?
Reynold: Super Shout Showdown bisa dibilang game yang cukup unik dan eksperimental. Mekanik utamanya menggunakan microphone dan voice recognition, hal yang jarang sekali ada di game lain.
Saya tahu tantangannya besar; enggak semua orang punya mic, dan kalau punya pun belum tentu berani bersuara untuk melakukan aksi di dalam game.
Belum lagi masalah akurasi.
Tapi justru itu yang ingin saya kasih ke player: sebuah experience yang beda dan cuma bisa didapatin di sini. Karena saya hobi nonton anime, saya ingin player bisa ngerasain pengalaman seakan-akan mereka jadi seorang MC (Main Character) yang harus ngucapin nama jurus buat menyerang.
UrbanIdea: Kenapa mas Reynold mutusin buat pakai Reddit sama Discord sebagai rumah utama buat komunitas, padahal game ini masih awal banget pengembangannya?
Reynold: Karena game ini masih tahap awal, saya coba buat video trailer singkat dulu untuk melihat respon orang terhadap ide game ini. Saya share di Reddit karena komunitas gamer PC di sana sangat besar.
Untuk Discord, ya karena memang komunitas gamer ramenya di situ. Ternyata benar saja, sudah ada beberapa player yang masuk ke Discord buat tanya-tanya langsung soal kapan gamenya bisa dimainkan.
UrbanIdea: Game Engine apa yang mas Reynold pakai dan kenapa memilih itu sebagai fondasi? Apa tantangan teknis paling unik yang mas Reynold hadapi saat mengembangkan fitur pengenalan suara?
Reynold: Saya pakai Unity karena sudah pakai engine ini sekitar 10 tahun. Tantangan pengenalan suara ini memang unik banget.
Biasanya game lain pakai sistem bawaan Windows, dan awalnya saya juga begitu. Tapi kekurangannya, bahasa yang didukung terbatas cuma 5 bahasa populer saja. Untuk pakai bahasa lain pun user harus instalasi ribet dulu.
Akhirnya saya cari solusi supaya player enggak perlu instal apa-apa dan bisa support Bahasa Indonesia agar momen streamer lokal pas main jadi lebih lucu.
Kebetulan karena AI lagi ramai, saya nemu solusi open source dari OpenAI (developer ChatGPT) yang pakai machine learning. Akurasinya jauh lebih baik dan support lebih dari 60 bahasa termasuk Indonesia.
UrbanIdea: Mengingat game ini mendukung VRoid, gimana alur kerja (pipeline) mas Reynold untuk meng-import dan memastikan avatar buatan komunitas bisa bekerja tanpa masalah?
Reynold: VRoid ini lumayan menantang. Singkatnya, VRoid itu aplikasi buat bikin karakter anime 3D secara detail. Saya terinspirasi dari game Craftopia yang bisa pakai karakter VRoid sendiri.
VRoid menyediakan SDK agar karakter bisa di-load ke dalam game secara runtime. Fitur ini wajib ada karena cocok dengan pilar utama game saya: jadi MC anime.
Tantangannya adalah masalah performa karena rendering-nya kurang optimal, jadi bisa bikin FPS turun kalau banyak yang pakai di satu room. Selain itu, karena tinggi badan avatar beda-beda, agak sulit untuk menentukan posisi aksesoris atau props yang pas di badan karakter.
UrbanIdea: Jika game ini sukses besar, apakah sistem pengenalan suara ini dirancang agar mudah diskalakan (scalable)?
Reynold: Untuk sekarang sistemnya sudah oke karena jalan secara lokal dan enggak memerlukan biaya tambahan. Itu memang salah satu syarat utama saya pas cari solusi voice recognition kemarin.
UrbanIdea: Game ini punya lebih dari 20 mantra unik. Mantra mana yang paling memuaskan secara emosional pas mas Reynold selesaiin, dan kenapa?
Reynold: Yang paling saya senang itu mantra yang terinspirasi langsung dari anime, kayak Explosion-nya Megumin atau Domain Expansion-nya Gojo. Terutama Explosion, itu sampai mengalami 3 kali revisi visual dan improve sound effect supaya benar-benar memuaskan pas jurusnya keluar.
UrbanIdea: Mas Reynold bilang pengenalan suaranya enggak harus 100% akurat. Bisa jelasin logika di balik ‘toleransi’ sistem ini?
Reynold: Nanti di menu pengaturan ada opsi buat menampilkan kalimat apa yang didengar oleh sistem. Dari situ kalimatnya bakal dibandingkan dengan daftar mantra yang orang pakai.
Saya pakai algoritma fuzzy logic. Karena sistem seringkali menambahkan tanda baca atau ada kata lain yang ikut terucap, sistem bakal kesulitan kalau harus 100% akurat. Jadi saya kasih threshold (ambang batas) sekitar 75%-80% kemiripan agar dianggap sama.
UrbanIdea: Frasa “EXPLOOOOSION!” ini mantra maskot enggak resmi game ini, ya? Gimana humor dari penggemar kayak gini ngaruh ke proses pengembangan mas Reynold?
Reynold: Pas saya upload trailer singkat, memang banyak banget yang komen soal ini. Mungkin karena frasanya sangat populer. Pengaruhnya lebih ke arah marketing sih, buat ngasih tahu kalau di sini pemain bisa roleplay jadi karakter anime kesukaan pemain.
UrbanIdea: Siapa pemain ideal buat game ini? Pemain PvP hardcore atau penggemar anime kasual?
Reynold: Target utamanya adalah penggemar anime yang ingin ngerasa jadi MC dan juga para streamer. Game ini cocok buat streamer karena mereka kan harus ngomong terus ya supaya stream-nya enggak sepi.
Di game ini, pemain punya alasan buat ngomong terus karena itu mekanik utamanya. Kalau untuk kompetitif garis keras kayaknya kurang cocok.
UrbanIdea: Apa ‘fitur impian’ yang mas Reynold harap bisa ditambah kalau dukungan komunitasnya kuat?
Reynold: Yang utama itu variasi jurusnya. Saya ingin buat jurus yang mekaniknya menarik, misal Full Counter yang bisa mantulin jurus lawan atau Unlimited Blade Works yang memindahkan lawan ke dimensi lain.
Selain itu, saya ingin ada game mode bervariasi, seperti lawan Boss NPC bareng-bareng.
UrbanIdea: Game ini punya sistem open mic. Tujuannya buat naikin suasana ‘teriakan’ itu atau ngebangun lingkungan sosial?
Reynold: Tujuannya supaya lebih imersif. Biar berasa kalau yang dilawan itu orang beneran, bukan NPC. Ngebangun lingkungan sosial itu bonus saja, karena main pakai open mic bareng teman itu seru banget pas kita dengar mereka teriak atau ketawa.
UrbanIdea: Ada rencana monetisasi setelah keluar dari Early Access? Fokus ke kosmetik atau DLC?
Reynold: Cukup di pay to play saja. Enggak ada micro-transaction atau DLC. Semua spell dan kosmetik bisa pemain dapetin cuma dengan mainin gamenya saja. Nanti ada sistem EXP dan currency dari setiap pertandingan buat unlock semuanya.
UrbanIdea: Ada rencana rilis di platform lain seperti konsol?
Reynold: Untuk sekarang belum ada. Sistem suaranya bekerja di Android, tapi belum tentu di konsol. Pemain konsol juga sepertinya jarang pakai mic.
UrbanIdea: Kalau bisa balik ke hari pertama, nasihat apa yang bakal mas Reynold kasih ke diri sendiri
Reynold: Daripada kasih nasihat, mungkin mending kasih modal saja kali ya wkwk. Biar bisa hire orang dan bikin gamenya lebih cepat selesai dengan kualitas lebih bagus.
Karena sekarang saya ngerjainnya sampingan di sela kerjaan full-time, jadi enggak bisa full throttle. Tapi kalau nanti hasil Early Access-nya cukup, saya mungkin akan pivot buat kembangin game ini secara full-time.
UrbanIdea: Satu hal apa yang mas Reynold ingin diingat semua pemain tentang waktu mereka di game mas Reynold?
Reynold: Momen lucu dan serunya. Saya ingin game ini jadi sarana orang dapet momen seru buat di-share ke sosmed. Ini bukan game yang harus dimainkan ratusan jam; saya cuma ingin player benar-benar have fun dan dapet experience yang enggak ada di game lain.
Suaramu adalah Senjatamu?
Reynold Erwandi lewat Super Shout Showdown ngajarin kita kalau keterbatasan (sebagai solo dev atau keterbatasan mic) bukan penghalang buat bikin sesuatu yang unik.
Dia nggak ngejar grafis realistis ala Unreal Engine karena dia tahu Unity lebih pas buat gaya stylized yang dia kejar.
Buat kamu yang pengen ngerasain gimana rasanya teriak “EXPLOOOOSION!” tanpa dianggap aneh sama tetangga (oke, mungkin tetangga tetep bakal denger sih), kamu sudah bisa masukin game ini ke wishlist di Steam.
Ingat, di game ini, bukan kecepatan tangan yang penting, tapi seberapa lantang dan mantap suara kamu neriakin mantra. Selamat mencoba dan jangan lupa siapin air minum biar tenggorokan enggak serak!
Link terkait Super Shout Showdown:
Link Steam Super Shout Showdown
Subreddit Super Shout Showdown
Cek juga interview People x Things lain:








