Pernah nggak sih kamu lagi enak-enaknya tidur di kereta malam, terus tiba-tiba kebangun dan panik karena enggak tahu sudah sampai stasiun mana?
Perasaan “waswas” ini emang jadi makanan sehari-hari buat para pejuang kereta api jarak jauh di Indonesia.
Nah, berangkat dari kegelisahan personal inilah, lahirlah sebuah aplikasi cakep bernama Kreta.
Lewat obrolan eksklusif bersama pengembangnya, Mochamad Revanza Kurniawan, UrbanIdea ID People x Things bakal mengulik gimana aplikasi ini berusaha jadi “asisten pribadi” yang bikin perjalanan kamu jauh lebih tenang.
Daftar Isi

Berawal dari Kegelisahan Penumpang Bekasi-Surabaya
Revanza sendiri sebenarnya adalah orang Bekasi yang pernah ngerasain bolak-balik dari dan ke Surabaya.
Sebagai penumpang KAI, dia ngerasa navigasi umum kayak Google Maps itu terkadang enggak cukup spesifik buat kebutuhan penumpang kereta api.
Seringkali kita cuma pengen tahu stasiun terakhir yang baru aja dilewati atau diingetin beberapa menit sebelum sampai stasiun tujuan biar enggak kebablasan.
Targetnya Orang Awam, Bukan Cuma Railfans Beda sama aplikasi pelacak kereta lain yang mungkin lebih cocok buat para pecinta kereta api (rail spotters atau railfans), Kreta ini emang dibuat buat pengguna awam.
Revanza pengen orang yang jarang naik kereta pun bisa langsung paham cara pakainya tanpa harus ribet baca grafik atau jadwal yang membingungkan.
Intinya, aplikasi ini fokus buat nyelesein masalah kecil yang kejadian setiap hari.
Inspirasi: Membawa Vibe “Flighty” ke Rel Kereta

Kalau kamu pernah liat atau pakai aplikasi Flighty di iPhone, pasti kamu setuju kalau tampilannya itu sangat satisfying dan informatif.
Revanza adalah salah satu penggemar berat aplikasi itu.
Masalahnya cuma satu: dia jarang naik pesawat. “Kenapa sih kereta enggak punya tracking yang enak kayak pesawat?” pikirnya waktu itu.
Itulah alasan kenapa Kreta punya nuansa yang premium dan bersih, seolah-olah kamu lagi nge-track penerbangan internasional, padahal lagi naik kereta ekonomi ke Jogja.
Fitur Andalan: Biar Kamu Santai, Kreta yang Pantau

Dua fitur yang jadi primadona di Kreta adalah Proximity Alarm dan Live Activities.
Alarm ini bakal bunyi otomatis pas kereta sudah mendekati stasiun tujuan kamu. Jadi, kamu bisa tidur pulas tanpa harus bentar-bentar buka HP cuma buat ngecek Maps.
Terus, lewat Live Activities, posisi kereta bisa dipantau langsung dari lock screen. Simpel, enggak ribet, dan sangat fungsional.
Fitur Berbagi ala Strava dan Slack Orang Indonesia itu suka banget pamer perjalanan, kan? Makanya, Kreta juga nyediain fitur buat share rute perjalanan kamu ke Instagram Story.
Uniknya, gaya visualnya terinspirasi dari aplikasi Strava dan Slack yang sudah di-generate otomatis jadi gambar cakep.
Kamu tinggal pilih rutenya, klik, dan langsung siap diposting.
Dapur Rekaman: Proses Kilat 1,5 Bulan Bareng AI
Rahasia SwiftUI dan Bantuan Kecerdasan Buatan Mungkin kamu enggak bakal nyangka kalau aplikasi sekeren ini dibangun cuma dalam waktu 1,5 bulan.
Revanza ngaku kalau dia banyak dibantu sama AI buat mempercepat proses kodingnya.
Dibangun menggunakan stack SwiftUI, proses pengembangannya jadi jauh lebih efisien. Tapi ya tetep aja, sentuhan manusianya alias human-centric innovation itulah yang bikin aplikasinya terasa punya “nyawa”.
Tantangan Teknis: “Drama” iOS 26 dan Scraping Data
Alasan di Balik Syarat Spesifikasi Tinggi Satu hal yang sempet bikin heboh di komunitas tech adalah syarat minimal OS-nya yang mengharuskan iOS 26.0 ke atas.
Kenapa sih harus setinggi itu? Ternyata, fitur alarmnya pakai AlarmKit API yang emang cuma tersedia di versi iOS terbaru.
Bahkan, disaranin minimal banget di versi 26.2 karena di versi di bawahnya masih ada beberapa bug. Memang terasa eksklusif, tapi ini demi pengalaman pengguna yang maksimal.
Buat urusan data jadwal, Kreta enggak pakai API resmi dari KAI dulu, melainkan lewat teknik scraping dari data GAPEKA (Grafik Perjalanan Kereta Api).
Revanza nge-bersihin data mentah itu biar bisa dibaca dengan mudah di aplikasi.
Ke depannya, dia berencana buat pakai lokasi user secara kolektif buat handle kalau ada keterlambatan kereta, jadi datanya bisa lebih akurat lagi dibanding jadwal statis.
Ngobrol Bareng KAI: Masa Depan Kursi dan Jendela
Ternyata, tim Kreta sudah sempet ngobrol lewat Zoom bareng pihak PT. KAI di Bandung, lho.
Respon mereka sangat positif. Salah satu fitur “tingkat dewa” yang lagi digodok adalah mapping kursi.
Kamu pengen tahu kursinya hadap depan atau belakang biar enggak pusing? Atau posisi kursi kamu pas enggak sama jendela? Kreta pengen kasih tahu detail itu semua sebelum kamu naik. Keren banget kan?
Nasib User Android dan Rencana Subscription
Buat kamu pengguna Android, sementara ini emang kudu gigit jari bentar, tapi tenang…
Revanza sudah bilang kalau versi Android lagi dalam proses pengembangan. Masalahnya, aplikasinya harus ditulis ulang dari awal karena teknologinya beda banget sama iOS.
Terus buat urusan duit, Revanza bilang fokusnya saat ini enggak ke profit dulu.
Rencananya emang bakal ada sistem subscription atau paywall buat fitur-fitur tertentu di akhir tahun ini, tapi dia janji fitur core atau fitur utamanya bakal tetep bisa dinikmati dengan nyaman.
Full Interview Q&A dengan Revanza Kurniawan
UrbanIdea: Selama di Academy, Mas dipaksa mikir dari sudut pandang user. Apa satu pelajaran paling “pahit” atau kritik paling tajam yang pernah Mas dapet soal desain aplikasi yang sebenernya ngerubah total cara Mas ngeliat sebuah produk?
Revanza: Ini yang jawab desainernya.
Dulu, saya sempat menerima kritik yang cukup “gurih” karena saat itu masih belum benar-benar paham tentang app design (tapi kepedean). Akibatnya, desain yang saya buat jadi terasa “gemuk”: terlalu banyak fitur yang sebenarnya tidak dibutuhkan, dengan alur yang kurang jelas arahnya ke mana.
Hal ini terjadi karena waktu itu saya masih sangat minim pemahaman soal product development, dan belum cukup menggali permasalahan utama yang benar-benar dialami oleh pengguna.
Dari academy inilah saya belajar bahwa desain aplikasi atau produk seharusnya bukan sekadar mempercantik tampilan, tetapi harus mampu menjawab masalah yang ada secara tepat dan relevan.
UrbanIdea: Ngerjain aplikasi kompleks kayak gini dalam waktu 1,5 bulan sambil tetap ada di lingkungan Academy pasti capek banget. Gimana cara Mas bagi waktu antara tugas utama Academy sama side hustle Kreta ini biar nggak burnout?
Revanza: Sepertinya mas salah nangkap. Jadi Kreta ini adalah hasil final project dari Apple Developer Academy. Saya bersama 4 orang teman di Academy membentuk tim Kreta dan sepakat punya ketertarikan yang sama untuk men-develop aplikasi ini. Timnya sendiri menurut saya kompak banget jadi seringnya productivity boost dan ga pernah ngerasa burnout rasanya
UrbanIdea: Mas bilang suka banget sama Flighty karena satisfying. Definisi satisfying menurut Mas itu di level visualnya aja, atau di level seberapa “nggak mikir” user pas pake aplikasinya?
Revanza: Dari segi visual dan juga fungsionalnya. UI/UX nya oke banget. Sekali pakai bisa langsung paham walaupun informasi yang ditawarkan cukup banyak.
UrbanIdea: Andaikan aplikasi Kreta viral, Mas ngerasa ini bakal jadi full-time job atau tetep mau jadi proyek portofolio aja buat cari kerja di perusahaan big tech?
Revanza: Untuk sampai jadi fulltime sepertinya masih jauh. Jadi, untuk saat ini ya untuk sampingan aja buat portfolio
UrbanIdea: Selain Flighty, ada nggak sosok atau produk lokal yang Mas kagumi karena berhasil nyelesain masalah harian orang Indonesia dengan cara yang “elegan”?
Revanza: Hmmm apa ya. Yang kepikiran mungkin aplikasi Gopay. UI nya oke dan appnya cepet juga. Sat set banget QRIS-nya
UrbanIdea: Mas sempet bilang “thanks to AI” pas develop 1,5 bulan. Sebenernya seberapa jauh peran AI di sini? Apa AI cuma buat bantu debugging atau emang Mas pake buat mikirin arsitektur data scraping-nya juga?
Revanza: Peran AI cukup banyak karena saya dan teman 1 tim yang juga developer itu baru banget ngerti bahasa pemograman yang dipake, yaitu Swift. Namun, bukan juga yang baru terjun jd programmer. Jadi, AI di sini membantu kita buat translate apapun yang ada di otak kita ke dalam bahasanya. Kita tetap menjadi pilotnya.
UrbanIdea: Di luar negeri ada standar GTFS Realtime buat bagiin posisi kendaraan secara real-time. Di Indonesia kan belum terbuka banget, makanya Mas pake scraping. Seberapa siap infrastruktur kode Kreta kalau tiba-tiba PT KAI ngebuka API standar GTFS?
Revanza: Kalau PT KAI tiba-tiba membuka API GTFS / GTFS Realtime, secara konsep infrastruktur kode Kreta relatif siap, tapi tetap ada beberapa penyesuaian penting, seperti database mapping.
UrbanIdea: Mas bilang harus iOS 26.2 karena di versi 26.0 masih buggy. Bisa ceritain secara teknis nggak kenapa AlarmKit itu sepenting itu sampai Mas rela kehilangan potensi user di bawah iOS 26?
Revanza: Karena AlarmKit menjadi fondasi alasan aplikasi kita dibuat, bayangin aja kalau misalnya bilangnya Kreta buat bangunin user, tapi cara banguninnya by notif HP, gimana cara buat bangunin user wkwkwkw jadi sepertinya kurang efektif. Rencananya memang kita bakal turunin iOS versinya biar banyak user yang bisa pake tapi ya tidak ada fitur alarmnya
UrbanIdea: Live Activities dan GPS tracking itu terkenal boros baterai. Strategi teknis apa yang Mas terapin biar aplikasi ini nggak bikin HP user panas pas perjalanan jauh kayak Jakarta-Surabaya?
Revanza: Kalau live activities belum ada atau pernah liat laporan bikin boros. Jadi sepertinya aman. Kalau buat yang GPT belum kepikiran karena sekarang belum diaplikasikan fiturnya
UrbanIdea: Ada feedback kalau initial load datanya lumayan gede dan lama. Secara teknis, Mas ada rencana buat pake sistem caching atau on-demand loading buat stasiun yang deket sama posisi user aja nggak?
Revanza: Yes masuk akal. Bisa banget nanti dipakeinlazy loading buat rute terdekat aja. Sudah kita masukan di roadmap hehe
UrbanIdea: Aplikasi DB Navigator punya fitur buat ngeliat seberapa penuh kereta (demand indicator). Mas kepikiran nggak buat manfaatin data user Kreta biar sesama penumpang bisa tahu gerbong mana yang lagi sepi?
Revanza: Kalau dari sisi inovasi, kital mendukung penuh penambahan fitur yang seperti itu. Tapi untuk kedepannya, Kreta bakal mendiskusikan hal tersebut lebih lanjut. Karena kamii selalu mengedepankan user (user first) agar fitur yang ditambahkan dapat berfungsi dan membantu user dengan baik.
UrbanIdea: Di Swiss, ada fitur EasyRide yang otomatis hitung tarif pas kita masuk dan keluar kereta. Mengingat Kreta punya fitur alarm berbasis lokasi, apa Mas kepikiran buat “nyerempet” ke fitur ticketing atau pembayaran nantinya?
Revanza: Hmmm less likely kearah sana ya. Karena dari analisis user. Para pengguna kereta api rata2 sudah memilki akses kepada ticketing itu sendiri. Seperti yang kita sudah tau ada KAI access, yang punya fitur lebih lengkap. Jadi kita akan bergerak menuju target user yang sudah kita tetapkan.
UrbanIdea: ÖBB Scotty dan DB Navigator detail banget soal info fasilitas stasiun buat penyandang disabilitas. Sebagai alumni Academy yang diajarin soal accessibility, gimana rencana Mas buat bikin Kreta ramah buat semua orang?
Revanza: Untuk accessibility dari keretanya sendiri, kami gak bisa terlalu banyak ya, karena itu juga harus bekerja sama dengan penyedia kereta.
Namun untuk accesibility dari app Kreta. Kami kami sudah melakukan beberapa keputusan untuk meningkatkan accessibility seperti penerapan dynamic text,WCAG color standard, dan pengaturan button size agar lebih mudah digunakan orang dengan masalah mata.
Memang masih belum sempurna, namun kedepannya kita akan meningkatkan accessibility dari kreta.
UrbanIdea: Citymapper kasih tahu bagian gerbong mana yang paling deket sama pintu keluar stasiun. Fitur “kecil tapi sakti” kayak gini ada di roadmap Kreta nggak buat stasiun besar kayak Manggarai atau Gambir?
Revanza: Ini belom ada karena kita masih belum punya datanya, tapi sempet jadi salah satu consideration kita pas bikin Kreta. Saat itu kepikirannya untuk turun kereta kita juga bantuin user buat kasih info ini itu dan gerbong mana yang bisa dipilih, tapi turns out hal kayak gini terlalu random/kita masih kurang data.
UrbanIdea: Aplikasi luar kayak SNCF Connect nunjukin jejak karbon perjalanan kereta. Apa Mas tertarik masukin sisi edukasi lingkungan di Kreta biar orang makin bangga naik transportasi umum?
Revanza: Tertarik tapi masih low priority karena balik lagi visi Kreta ga ngarah ke sana.
UrbanIdea: Pas rilis di Android nanti, Mas bakal tetep pertahanin desain ala Apple yang clean atau mau bener-bener adaptasi ke Material Design biar nggak dibilang “aplikasi iOS yang dipaksa ke Android”?.
Revanza: Short answer iya, namun tidak. Kami akan tetap pertahankan gaya clean design sebagai bentuk dari prinsip kita terhadap desain yang mudah dipahami. Namun juga akan mempertimbangkan behaviour dari user yang akan dituju. Jadi gak semerta-merta “android atau iOS”. Melainkan user seperti apa yang kita hadapi.
UrbanIdea: Kreta itu aplikasi non-profit buat ngeramein komunitas atau Mas ada rencana sistem langganan kayak Transit Royale buat fitur-fitur pro?.
Revanza: Ada rencana untuk monetization tapi kita juga ga mau yang kayak membatasi banget free user nantinya. Jadi, pengennya fitur penting tetap bisa diakses oleh free user
UrbanIdea: Ada ide soal fitur nandain stasiun rawan copet. Gimana cara Mas memvalidasi laporan user biar nggak jadi fitnah atau malah bikin orang takut ke stasiun tertentu?
Revanza: Sejujurnya ide ini masih agak terlalu nyimpang dari misi kita/problem kita jadi gapernah ada mikir ke sini/bahkan ngurusin tentang ini.
Cuman, kalau misalnya bikin, mungkin by user review akan suatu stasiun itu aja sih, buat masalah fitnah dan lainnya itu faktor terlalu random untuk kita atur, so probably dari fitur review itu seharusnya sudah cukup untuk saling mengdefend sebuah stasiun.
UrbanIdea: Kalau PT KAI nawarin buat integrasiin Kreta ke aplikasi Access by KAI, Mas lebih milih tetep jadi “Companion App” yang independen atau mau jadi bagian dari ekosistem mereka?.
Revanza: tergantung duwit hehe. Kemarin dari pihak KAI tertarik buat bawa fitur live activities nya aja ke app mereka
UrbanIdea: Rencana pake lokasi user buat koreksi jadwal keterlambatan itu keren banget. Gimana kalau dalam satu kereta ada dua user yang data lokasinya beda? Mas bakal pake algoritma konsensus kayak gimana?
Revanza: Secara praktis, kalo sekarang kepikirannya kita pakai pendekatan weighted consensus kalo ada user banyak. basically data yang stabil, konsisten, dan mirip dengan user lain bobotnya lebih besar, sementara outlier otomatis diturunin weightnya.
Kesimpulan: Inovasi yang Memanusiakan Perjalanan
Kreta bukan cuma sekadar aplikasi buat liat jadwal kereta doang. Ini adalah bukti kalau teknologi, kalau dipaduin sama empati terhadap masalah sehari-hari, bisa jadi solusi yang sangat membantu.
Dari Bekasi ke Surabaya, dari kegelisahan jadi kenyamanan, Kreta siap jadi teman setia perjalanan rel kamu.
Makanya, kalau kamu pakai iPhone, langsung aja sikat di App Store dan rasain sendiri sensasi naik kereta tanpa rasa waswas!
Link download Kreta app (iOS only)
Cek juga interview People x Things lain:









