Setiap tahun, ribuan startup teknologi lahir dengan janji mengubah dunia. Tapi kenyataannya, banyak dari mereka justru menciptakan produk yang memecahkan masalah yang gak pernah ada. Hasilnya? Gadget mewah yang ujung-ujungnya cuma jadi bahan tertawaan atau sekadar pajangan di lemari.
Kita bakal bedah beberapa penemuan teknologi paling absurd yang pernah ada. Dari juicer seharga jutaan yang bisa diperas tangan, sampai gadget AI yang meleleh di badan pemakainya. Siap-siap geleng-geleng kepala.
1. Juicero: Juicer Seharga Rp 10 Juta yang Bisa Diperas Tangan

Ini adalah contoh paling ikonik dari produk “gak ada yang nanya tapi dibikin”. Juicero adalah mesin peras jus dingin yang terhubung ke Wi-Fi. Harganya USD 400 saat pertama diluncurkan. Sebelumnya USD 700. Startup ini mengumpulkan USD 120 juta dari investor termasuk Google Ventures dan Kleiner Perkins.
Masalahnya? Jurnalis Bloomberg menemukan bahwa kantong buah yang diperas pakai mesin itu ternyata bisa diperas dengan tangan. Hasilnya? Sama saja. Bahkan lebih cepat pakai tangan.
Founder-nya, Doug Evans, bahkan membandingkan dirinya dengan Steve Jobs dan bilang mesinnya bisa menghasilkan tekanan empat ton, “cukup untuk mengangkat dua Tesla.” Tapi pada akhirnya, kamu gak butuh mesin seharga USD 400 buat memeras kantong buah. Juicero tutup lima bulan setelah skandal ini terungkap (sumber: Bloomberg, The Verge).
2. Humane AI Pin: Gadget AI Seharga Rp 11 Juta yang Meleleh

Humane AI Pin adalah perangkat AI seukuran bros yang ditempel di baju. Dibuat oleh dua mantan engineer Apple, Imran Chaudhri dan Bethany Bongiorno. Harganya USD 699 plus langganan USD 24 per bulan. Investor menanamkan USD 230 juta ke perusahaan ini.
Janjinya? Menggantikan smartphone. Gak ada layar, cukup bicara ke pin di dada, dan AI akan membantu kamu. Proyektor laser akan menampilkan informasi di telapak tangan kamu.
Kenyataannya? MKBHD menyebutnya “produk terburuk yang pernah saya review.” Pin-nya cepat panas dan mati sendiri. Baterai cuma tahan 2-4 jam. Proyektor gak jelas di bawah sinar matahari. Dan yang paling parah, beberapa unit dilaporkan meleleh karena masalah baterai. Humane harus recall charging case karena risiko kebakaran.
Dari target penjualan 100.000 unit, Humane cuma menerima sekitar 10.000 order. Perusahaan ini akhirnya dijual ke HP seharga USD 116 juta. Itu jauh dari valuasi USD 1 miliar yang pernah mereka klaim (sumber: The Verge, Ars Technica).
3. Segway: Revolusi Transportasi yang Jadi Mainan Turis

Ketika Segway diluncurkan tahun 2001, penemunya Dean Kamen bilang ini bakal “mengubah segalanya.” Gak cuma transportasi pribadi, tapi juga perencanaan kota. Investornya juga yakin, memprediksi penjualan USD 1 miliar dalam lima tahun pertama.
Harganya? USD 5.000. Beratnya lebih dari 45 kg. Gak praktis buat jalan kaki di trotoar, dan banyak kota langsung melarang penggunaannya karena masalah keamanan.
Setelah lima tahun, Segway cuma terjual 23.000 unit di seluruh dunia. Itu kurang dari 10% dari target awal. Segway akhirnya dijual ke perusahaan China Ninebot tahun 2015. Produk ini sekarang lebih dikenal sebagai alat tur keliling kota daripada revolusi transportasi (sumber: BBC, How-To Geek).
4. CueCat: Scanner Barcode Kucing yang Rugi USD 185 Juta

Tahun 2000-an, Digital Convergence Corporation mengumpulkan USD 185 juta dari investor besar seperti Coca-Cola, RadioShack, dan GE. Produk mereka? CueCat, scanner barcode berbentuk kucing yang dicolok ke keyboard komputer kamu.
Idenya: kamu lihat iklan di majalah, scan barcode-nya, dan langsung dibawa ke website penjual. Gak perlu ketik URL. Keren kan? Ternyata gak.
Masalahnya jelas. Kamu harus duduk di depan komputer, baca majalah fisik, dan scan barcode satu per satu. Kenapa gak langsung buka HP dan ketik nama produknya? RadioShack, Forbes, dan Wired membagikan CueCat gratis. Tapi tetap aja gak ada yang mau. Paling-paling, produk ini dijual seharga USD 0.30 per unit di clearance (sumber: Museum of Failure, Hackaday).
5. Quibi: USD 1,75 Miliar yang Habis dalam 8 Bulan

Quibi didirikan oleh eksekutif Hollywood Jeffrey Katzenberg dan mantan CEO eBay Meg Whitman. Mereka mengumpulkan USD 1,75 miliar untuk platform streaming video pendek khusus ponsel. Episode-episode 10 menit, dibintangi aktor terkenal, dengan teknologi video rotasi.
Masalahnya? Quibi diluncurkan April 2020, tepat saat pandemi COVID-19. Semua orang di rumah nonton TV, bukan ponsel. Lebih parah lagi, Quibi melarang screenshot dan sharing ke media sosial. Jadi gak ada yang bisa bikin buzz organik.
Quibi tutup Desember 2020, cuma delapan bulan setelah peluncuran. Katalog kontennya dibeli Roku dengan harga di bawah USD 100 juta. Dari USD 1,75 miliar jadi USD 100 juta. Itu salah satu kegagalan terbesar dalam sejarah media (sumber: Yahoo Tech).
6. 5GBioShield: USB USD 6 Dijual USD 416

Ini contoh produk yang memanfaatkan ketakutan. 5GBioShield adalah USB stick yang diklaim bisa melindungi kamu dari radiasi 5G. Harganya USD 416 (sekitar Rp 6,5 juta).
Ternyata? IT security firm Pen Test Partners membeli dan membongkar produk ini. Hasilnya? Itu cuma USB stick USD 6 dari China yang ditempel stiker. Gak ada teknologi pelindung apa pun di dalamnya. USB-nya bahkan gak perlu dicolok ke komputer untuk “bekerja,” menurut penjualnya.
Produk ini dijual lewat skema affiliate marketing dan dipromosikan oleh aktivis obat alternatif. British Trading Standards menyebutnya penipuan (sumber: Business Insider, Wikipedia).
7. Dragonfly Futurefon: Scam Crowdfunding Sejati

Tahun 2014, startup bernama IdealFuture meluncurkan kampanye Indiegogo untuk Dragonfly Futurefon, sebuah perangkat hybrid ponsel-laptop. Desainnya cantik: layar sentuh 7 inci yang bisa dilipat jadi laptop, jalanin Windows dan Android, harganya cuma USD 799.
Mereka mengumpulkan hampir USD 650.000 dari ratusan backer. Tapi yang dijual? Cuma mockup 3D. Gak ada hardware nyata. Founder-nya, Jeff Batio, ternyata punya sejarah panjang startup yang gagal dan investor yang kecewa.
Tahun 2019, FBI menangkap Batio karena penipuan. Ternyata dia juga mengumpulkan USD 5 juta dari investor lewat perusahaan sebelumnya, Armada. Total kerugian lebih dari USD 5,7 juta. Indiegogo tetap membiarkan kampanye ini terus mengumpulkan uang sampai akhir (sumber: The Verge).
8. Chindogu: Seni Jepang Bikin Alat yang “Hampir Berguna”

Di balik semua penemuan absurd ini, ada konsep menarik dari Jepang bernama Chindogu. Istilah ini dipopulerkan oleh Kenji Kawakami di tahun 1990-an. Chindogu adalah alat yang terlihat seperti solusi cerdas, tapi saat dipakai justru merepotkan, memalukan, atau terlalu rumit.
Contohnya? Sepatu kecil berbentuk payung buat melindungi sepatu dari hujan. Tapi dua payung kecil di kaki justru bikin kamu terlihat lebih repot daripada pakai payung biasa. Atau corong tetes mata yang bentuknya kayak kacamata dengan selang. Bikin kamu kelihatan aneh.
Chindogu gak sepenuhnya tidak berguna. Tapi biaya sosial, rasa malu, atau keribetannya biasanya lebih besar dari manfaat yang ditawarkan. Konsep ini mengingatkan kita bahwa gak semua inovasi perlu berubah jadi produk massal (sumber: Skdesu, USS Feed).
Pola yang Sama: Kenapa Produk Ini Bisa Terciptanya?
Kalau kita lihat polanya, semua produk ini punya kesamaan:
- Problem solving untuk masalah yang gak ada. Juicero, CueCat, dan Segway semuanya mencoba “merevolusi” sesuatu yang sebenernya udah berjalan baik.
- Investor hype lebih besar dari product utility. USD 120 juta buat juicer, USD 230 juta buat pin yang meleleh. Investor sering kali tergoda visi besar tanpa mempertimbangkan apakah produknya benar-benar dibutuhkan.
- Buzzword teknologi sebagai kedok. “Wi-Fi connected,” “AI-powered,” “blockchain-based” sering kali jadi alasan kenapa produk bisa dijual mahal, padahal fungsinya gak berubah.
- Over-engineering. Buat apa bikin mesin dengan 24 komponen di mekanisme pintu kalau kamu cuma butuh memeras kantong buah?
Penutup: Inovasi yang Gak Perlu, Uang yang Terbuang
Penemuan teknologi paling enggak berguna ini bukan sekadar lelucon. Mereka mengingatkan kita bahwa inovasi tanpa empati terhadap kebutuhan nyata hanya menghasilkan pemborosan. Uang ratusan juta dolar menguap untuk produk yang ujung-ujungnya dibuang atau dijual clearance.
Tapi di sisi lain, kegagalan ini juga memberi pelajaran berharga. Segway gagal mengubah transportasi, tapi menginspirasi lahirnya e-scooter dan hoverboard. Google Glass gagal di konsumer, tapi terbukti berguna di industri medis dan manufaktur.
Jadi kalau kamu punya ide untuk startup teknologi, tanyakan dulu ke diri sendiri: apakah masalah ini benar-benar ada? Atau kamu cuma bikin produk karena bisa? Karena kadang, jawaban paling jujur adalah: kita gak butuh ini.









