Dari Pentungan ke Joystick: Gimana Teknologi Bikin Kita “B aja” sama Kematian

Nyadar gak sih kalau dunia sekarang tuh makin dingin. Dulu, kalau ada berita orang meninggal, rasanya sedihnya berhari-hari. Sekarang? Liat video perang di Twitter (X) sambil makan seblak pun bisa. Kita cuma scroll, kasih “like” kalau kasihan, terus lanjut liat video kucing joget.

Kenapa kita bisa se-mati rasa itu? Jawabannya bukan karena kita jahat, tapi karena “User Experience” (UX) cara kita membunuh; atau melihat orang terbunuh udah dapet update besar-besaran dari zaman batu sampai era Elon Musk. Efeknya? Jujur, ngeri buat kemanusiaan.

Kenapa Evolusi Senjata Ini Bikin Kita Jadi “Zombi” Empati?

Masalahnya bukan karena kita nggak punya hati, tapi karena “paradigma” jarak yang dibikin sama teknologi itu ngerusak sirkuit di otak kita. Otak manusia itu punya fitur namanya Mirror Neurons. Fungsinya? Biar kita bisa ngerasain apa yang orang lain rasain. Tapi fitur ini punya kelemahan: cuma aktif maksimal kalau kita deketan. Begitu teknologi kasih jarak, fitur ini langsung lag atau malah force close.

Level 1: Era Pentungan (Pengalaman Langsung)

Zaman dulu, kalau mau berantem sama tetangga suku sebelah, pilihannya cuma batu atau kayu.

Hello, Gaes!

  • Feedback-nya terlalu nyata: Pada zaman ini, kalau kamu mau bunuh orang, kamu harus deket banget sama lawan. Kamu liat matanya, denger suaranya, dan ngerasain sensasi asing saat pentunganmu mendarat di kepalanya. Lalu jantungmu deg-degan saat dia ambruk ke tanah.
  • Traumanya Instan: Karena “UX”-nya terlalu nyata, orang zaman dulu kalau abis perang itu nggak bisa langsung balik ngopi. Mereka harus lewat ritual penyucian karena otak mereka “korslet” abis liat nyawa ilang di depan muka. Belum lagi bayang-bayang wajah orang yang mereka bunuh terbawa seumur hidup. Terus kebawa pikiran bahwa orang yang mereka bunuh itu juga punya anak istri kayak mereka.

Level 2: Era Mekanik (Jarak adalah Koentji)

Terus manusia mulai pinter. Mereka mikir, “Bisa nggak ya kita bikin dia out tapi saya nggak perlu kena cipratan darahnya?” Mulai deh tuh, banyak yang ngide bikin senjata-senjata jarak jauh dan senjata lainnya yang efektif matiin orang tetapi juga gampang digunakan.

  • Inovasi Crossbow: Di abad ke-12, Paus Innocent II sempat mau ngelarang penggunaan crossbow. Kenapa? Karena dianggap “curang” dan nggak jantan. Bayangin, petani biasa bisa bunuh ksatria berbaju besi dari jauh tanpa perlu adu otot. Kalau mau ditarik lebih jauh lagi kita bisa lihat crossbow ini menurunkan pistol, yang sama “curang”-nya. Mau musuhnya sejago Kenshin Himura yang udah latihan bertahun-tahun, begitu kena “dorr!” langsung meninggoy.
  • Buffer Psikologis: Di sini empati mulai luntur. Musuh nggak lagi punya muka, mereka cuma jadi “titik” di kejauhan. Begitu pelatuk ditarik, yang ilang bukan orang, tapi “target”.

Level 3: Era Digital (Mati Itu Cuma Masalah Resolusi)

Nah, sekarang kita masuk ke fase paling runyem: Drone Warfare.

  • Killing as a 9-to-5 Job: Pilot drone di Nevada bisa “nembak” target di Timur Tengah lewat layar monitor, terus sorenya mampir ke minimarket beli susu buat anaknya. Rasanya kayak, damn, man!
  • The Gray Blob Era: Di layar mereka, manusia itu nggak kelihatan kayak manusia. Mereka cuma “Heat Signature” atau gumpalan abu-abu yang bergerak. Pas diledakin? Cuma ada kilatan cahaya, nggak ada suara teriakan, nggak ada bau mesiu.
  • Gamifikasi: UI (User Interface) di layar militer sekarang mirip banget sama game Call of Duty. Begitu kematian berubah jadi “pixel yang ilang,” otak kita nggak nganggep itu sebagai tragedi, tapi sebagai tugas yang selesai. Ngeri, gaes!

Pain Points: Kenapa Kita yang Cuma Penonton Juga Kena Getahnya?

Bukan cuma pilotnya, kita yang megang HP juga kena “update” desensitisasi ini:

  1. Infinite Scrolling: Kita liat genosida di antara iklan promo skincare dan video dance TikTok. Otak kita bingung mau bereaksi gimana, akhirnya milih buat “biasa aja” biar nggak gila.
  2. Mitos Resolusi Tinggi: Kita pikir liat video 4K bikin kita lebih paham, padahal justru bikin kita ngerasa itu cuma “konten”. Kita kehilangan koneksi emosional karena nggak ada kehadiran fisik.

Kesimpulan: Kalo Bisa Pilih, Saya Mau Balik ke “Manual” (Eh, Nggak Deng)

Teknologi emang bikin semuanya lebih efisien, termasuk urusan nyabut nyawa. Kita pindah dari “ngerasain detak jantung lawan” ke “mainin joystick terus tekan tombol”. Lebih bersih, lebih canggih, tapi empati kita jadi taruhannya..

Sayangnya perkembangan teknologi gak bisa ditahan juga. Siapa juga gak yang senang dengan kemunculan hal-hal yang bikin hidup jadi lebih mudah, termasuk matiin orang lain. Tapi ya, mau diapain lagi…

Prepared by:

Share: