Percaya atau nggak, teknologi Bluetooth Classic Audio yang selama ini kita pakai di earphone dan speaker itu umurnya udah lebih dari dua dekade. Bayangin, teknologinya udah tua banget, sementara hardware pendukungnya terus berkembang pesat. Akhirnya, Bluetooth Classic jadi penghambat alias bottleneck di perangkat kita. Untuk mengatasi masalah ini, Bluetooth SIG akhirnya ngenalin Bluetooth Low Energy (LE) Audio.
Sejak pertama kali muncul di Bluetooth 5.2, LE Audio perlahan mulai menggantikan standar lama. Di tahun 2026 ini, teknologinya makin umum dipakai. Kenapa sih banyak orang nungguin standar ini? Soalnya, Bluetooth LE Audio beneran jadi solusi buat lima masalah utama yang gak pernah bisa diselesaikan sama Bluetooth Classic.

Kualitas Suara dan Efisiensi
LC3: Standar Baru yang Jauh Lebih Baik
Selama ini, Bluetooth Classic pakai profil A2DP dengan codec SBC sebagai standar wajib. Masalahnya, SBC itu sangat terkompresi. Meskipun punya angka bitrate tinggi, efisiensinya payah. Latensinya juga bikin kesel, biasanya antara 150ms sampai 300ms.
Nah, Bluetooth LE Audio datang bawa codec LC3. Ini adalah perubahan besar. LC3 jauh lebih efisien dibanding SBC atau bahkan AAC. Dia bisa ngasih kualitas suara yang lebih jernih meski pakai bitrate yang lebih rendah. Jadi, kita dapet audio yang lebih enak didengar tanpa harus boros data.
Efisiensi Baterai
Bikin Earbuds Lebih Awet
Kita semua tau, baterai earbuds itu ukurannya kecil banget, jadi tiap persen daya itu berharga. Bluetooth Classic emang terkenal boros daya. Nama “Low Energy” di Bluetooth LE Audio bukan sekadar label, tapi emang didesain buat lebih hemat listrik.
Berkat codec LC3 yang efisien tadi, perangkat gak perlu kerja keras buat memproses data. Selain itu, radio khusus Low Energy di dalamnya mendukung koneksi multi-stream yang jauh lebih pintar dalam mengatur konsumsi daya. Hasilnya? Earbuds kamu bisa nyala lebih lama tanpa bikin baterainya cepat drop.
Berbagi Audio (Audio Sharing)
Fitur Auracast yang Keren

Dulu, Bluetooth Classic cuma bisa konek satu-ke-satu. Itulah kenapa di TWS (True Wireless Stereo) zaman dulu, satu earbud harus nerima sinyal terus diterusin ke satunya lagi. Ribet, kan? Bluetooth LE Audio mengubah itu; dia bisa ngirim stream audio terpisah langsung ke masing-masing earbud secara sinkron.
Yang paling seru adalah fitur Auracast. Bayangin kamu lagi di bandara atau stasiun, dan pengumuman suara disiarkan langsung ke earbuds atau alat bantu dengar kamu. Bukan cuma itu, kamu juga bisa berbagi audio dari satu HP ke banyak perangkat LE Audio sekaligus. Seru, kan?
Latensi Rendah
Main Game Jadi Lebih Asik
Balik lagi soal latensi, delay 150-300ms di Bluetooth Classic itu bencana buat para gamer. Suara tembakan atau langkah kaki musuh sering telat masuk. Pas nonton video pun, bibir aktor sama suara yang keluar suka gak sinkron.
Bluetooth LE Audio punya latensi teoritis cuma 7.5ms. Di penggunaan nyata, angkanya bisa ditekan sampai sekitar 50ms. Jauh lebih mendingan dan pastinya bikin pengalaman main game atau nonton jadi jauh lebih mulus.
Koneksi Alat Bantu Dengar
Solusi Inklusif yang Lebih Baik
Terakhir, LE Audio ini membawa dampak besar bagi pengguna alat bantu dengar. Karena dukungannya terhadap multi-stream, sinyal bisa dikirim ke telinga kiri dan kanan dengan sinkronisasi yang super presisi, mencapai 20 mikrodetik. Ditambah fitur Auracast, pengguna alat bantu dengar jadi lebih mudah mendengar informasi di tempat umum tanpa perlu ribet.
Singkatnya, Bluetooth Classic emang udah waktunya pensiun. Dengan hardware dan software yang lebih modern, Bluetooth LE Audio beneran jadi standar masa depan yang bikin pengalaman dengerin musik makin nyaman, irit baterai, dan pastinya minim delay.









